Kubur dan kematian seharusnya boleh menjadi pengingat bagi kita untuk sedar dan menjauhi hal-hal yang negatif. Namun ada juga sebahagian manusia yang tak peduli dengan kematian, walaupun mereka berada didekatnya.
Pada bulan September 2013 lepas, ada seorang bernama Soleh yang meninggal dunia. Sayang namanya tidak menggambarkan perilakunya. Ia wafat setelah pesta minum arak dan dikuburkan beberapa waktu kemudian. Beberapa saat sebelum Soleh dikuburkan, tujuh orang lainnya melakukan pesta minum arak pula di lokasi kuburan. Sebahagian dari ketujuh orang itu bekerja sebagai penggali kubur. Selepas menguburkan jenazah Soleh, mereka kembali melanjutkan pesta minum arak di tempat itu. Malam itu juga, beberapa orang yang meminum arak tersebut masuk ke dalam hospital. Satu di antara mereka meninggal dunia selepasnya.
Mereka buat maksiat di tempat yang seharusnya mengingatkan mereka pada kematian. Kalau kematian sudah tak boleh menyedarkan dan menginsafkan, apa lagi yang nak diharapkan?
Ya Allah, jauhkan kami daripada Su'ul Khatimah.
http://jogja.tribunnews.com/2013/09/18/tujuh-orang-pesta-miras-oplosan-di-kompleks-makam-lima-tewas
Showing posts with label kubur. Show all posts
Showing posts with label kubur. Show all posts
Wednesday, November 6, 2013
Tuesday, September 24, 2013
Sebesar apa rumah kita?
Beberapa hari lepas saya bertakziah ke tempat seorang yang baru saja meninggal dunia. Orang yang wafat ini merupakan seorang peniaga yang berhasil dan termasuk orang kaya. “Jalan masuk ke rumahnya hanya cukup untuk satu kereta,” begitu saya diberitahu, “tapi rumahnya besar sekali.”
Ketika tiba di rumahnya, saya tidak begitu memperhatikan keadaan tempat itu, kerana perhatian tertuju pada orang-orang lainnya yang hadir di sana. Beberapa waktu kemudian, jenazah dibawa dengan sebuah kereta pengantar jenazah menuju ke masjid untuk disolatkan dan kemudian dibawa ke kubur. Saya sendiri tidak ikut menyalatkan di masjid dan mengantarkan ke kuburan. Saya menunggu ibu saya yang ikut bertakziah keluar dari dalam rumah untuk kemudian pulang ke rumah.
Orang-orang sudah mulai pergi meninggalkan tempat itu dan suasana menjadi lebih sepi. Ketika itu, sambil menunggu ibu, saya memperhatikan halaman serta rumah yang besar itu. Untuk sebuah rumah pribadi, tempat itu memang sangat besar. Ia memiliki bangunan tempat meletakkan kereta yang terpisah dari bangunan rumah utama. Halaman dan kebunnya juga sangat luas.
“Besar sekali rumah ini,” saya bertanya-tanya ingin tahu, “berapakah luasnya?”
“Saya dengar luasnya 1 hektar,” kata abang yang ada di sebelah saya.
Dapatkah anda membayangkan sebuah rumah pribadi, di tengah kota besar seperti Jakarta, yang luas tanahnya 1 hektar? Tentu saja Allahyarham bukan satu-satunya orang kaya yang memiliki rumah dan halaman seluas itu. Ada orang-orang kaya lainnya yang memiliki rumah pribadi dengan tanah yang luas. Tapi jumlah mereka tentu tak ramai, apalagi jika dibandingkan dengan kebanyakan orang yang rumahnya tidak sampai 100 atau 150 meter persegi. Masih ramai lagi yang tidak memiliki rumah sama sekali dan hanya mampu menyewa rumah.
Kalau pemilik rumah ini selalu bersyukur kepada Tuhannya atas nikmat itu, tentu ia termasuk orang yang beruntung. Ia memiliki rumah yang besar, memiliki kekayaan yang lebih dari cukup, memiliki kenderaan dan bangunan khusus untuk meletakkan kenderaannya, memiliki bisnes yang hebat, serta memiliki banyak hal lainnya. Tentu tiada alasan untuk tidak bersyukur. Tapi kita yang rumahnya kecil pun, atau belum punya rumah, jangan sampai tak bersyukur. Kerana nikmat yang sedikit pun perlu disyukuri. Sekecil apa pun nikmat, di dalamnya ada tuntutan untuk bersyukur. Dan bagi orang yang bersyukur, nikmatnya akan dilipatgandakan.
Jadi begitulah, orang itu memiliki rumah yang sangat besar. Namun kini ia sudah meninggal dunia. Jenazahnya dihantar meninggalkan rumah itu, menuju ke tempat yang lain. Kemana jenazah itu dihantarkan? Ya, ia dihantarkan ke ‘rumah’ yang baru. Luas rumah yang baru itu hanya sekitar dua meter persegi, tidak lebih. Rumah barunya itu sama saja dengan rumah kita semua pada akhirnya. Orang yang tidak punya rumah selama hidupnya pun pada akhirnya akan menempati ‘rumah’ yang luasnya kurang lebih sama dengan yang ditempati si kaya.

Rumah di akhir kehidupan itu bernama kuburan. Kita semua akan masuk ke dalamnya. Kekayaan kita di dunia tidak membuat kubur itu lebih lapang dan selesa. Kekayaan amal-lah yang akan menjadikannya terang dan aman.
Jangan hanya sibuk membeli dan mengurus rumah duniawi. Kerana pada akhirnya rumah itu akan jadi milik orang lain. Persiapkan diri untuk rumah yang terakhir. Agar kelak kita tak merasa kecewa yang berpanjangan.
Syed Alwi Alatas
Jakarta, 23 September 2013
Ketika tiba di rumahnya, saya tidak begitu memperhatikan keadaan tempat itu, kerana perhatian tertuju pada orang-orang lainnya yang hadir di sana. Beberapa waktu kemudian, jenazah dibawa dengan sebuah kereta pengantar jenazah menuju ke masjid untuk disolatkan dan kemudian dibawa ke kubur. Saya sendiri tidak ikut menyalatkan di masjid dan mengantarkan ke kuburan. Saya menunggu ibu saya yang ikut bertakziah keluar dari dalam rumah untuk kemudian pulang ke rumah.
Orang-orang sudah mulai pergi meninggalkan tempat itu dan suasana menjadi lebih sepi. Ketika itu, sambil menunggu ibu, saya memperhatikan halaman serta rumah yang besar itu. Untuk sebuah rumah pribadi, tempat itu memang sangat besar. Ia memiliki bangunan tempat meletakkan kereta yang terpisah dari bangunan rumah utama. Halaman dan kebunnya juga sangat luas.
“Besar sekali rumah ini,” saya bertanya-tanya ingin tahu, “berapakah luasnya?”
“Saya dengar luasnya 1 hektar,” kata abang yang ada di sebelah saya.
Dapatkah anda membayangkan sebuah rumah pribadi, di tengah kota besar seperti Jakarta, yang luas tanahnya 1 hektar? Tentu saja Allahyarham bukan satu-satunya orang kaya yang memiliki rumah dan halaman seluas itu. Ada orang-orang kaya lainnya yang memiliki rumah pribadi dengan tanah yang luas. Tapi jumlah mereka tentu tak ramai, apalagi jika dibandingkan dengan kebanyakan orang yang rumahnya tidak sampai 100 atau 150 meter persegi. Masih ramai lagi yang tidak memiliki rumah sama sekali dan hanya mampu menyewa rumah.
Kalau pemilik rumah ini selalu bersyukur kepada Tuhannya atas nikmat itu, tentu ia termasuk orang yang beruntung. Ia memiliki rumah yang besar, memiliki kekayaan yang lebih dari cukup, memiliki kenderaan dan bangunan khusus untuk meletakkan kenderaannya, memiliki bisnes yang hebat, serta memiliki banyak hal lainnya. Tentu tiada alasan untuk tidak bersyukur. Tapi kita yang rumahnya kecil pun, atau belum punya rumah, jangan sampai tak bersyukur. Kerana nikmat yang sedikit pun perlu disyukuri. Sekecil apa pun nikmat, di dalamnya ada tuntutan untuk bersyukur. Dan bagi orang yang bersyukur, nikmatnya akan dilipatgandakan.
Jadi begitulah, orang itu memiliki rumah yang sangat besar. Namun kini ia sudah meninggal dunia. Jenazahnya dihantar meninggalkan rumah itu, menuju ke tempat yang lain. Kemana jenazah itu dihantarkan? Ya, ia dihantarkan ke ‘rumah’ yang baru. Luas rumah yang baru itu hanya sekitar dua meter persegi, tidak lebih. Rumah barunya itu sama saja dengan rumah kita semua pada akhirnya. Orang yang tidak punya rumah selama hidupnya pun pada akhirnya akan menempati ‘rumah’ yang luasnya kurang lebih sama dengan yang ditempati si kaya.

Rumah di akhir kehidupan itu bernama kuburan. Kita semua akan masuk ke dalamnya. Kekayaan kita di dunia tidak membuat kubur itu lebih lapang dan selesa. Kekayaan amal-lah yang akan menjadikannya terang dan aman.
Jangan hanya sibuk membeli dan mengurus rumah duniawi. Kerana pada akhirnya rumah itu akan jadi milik orang lain. Persiapkan diri untuk rumah yang terakhir. Agar kelak kita tak merasa kecewa yang berpanjangan.
Syed Alwi Alatas
Jakarta, 23 September 2013
Wednesday, September 18, 2013
Syair yang menyentuh tentang kematian
Jika Tuhanku bertanya padaku
Tidak malukah kau bermaksiat pada-Ku?
Kau sembunyikan dosamu dari makhluk-Ku
Dan datang pada-Ku dengan penuh dosa
Bagaimana aku nak jawab duhai diriku yang malang?
… dan siapalah yang dapat menyelamatkan aku?
Aku terus menyogok jiwaku dengan impian
Dan harapan dari semasa ke semasa
Dan aku melupakan apa yang bakal dihadapi selepas mati
Dan apa yang akan berlaku selepas aku dikafankan
Seolah-olah aku ini telah dijamin untuk hidup selamanya
Seakan mati tidak akan menemuiku
Dan telah datang padaku sakaratul yang ngeri
Nah! Siapa sekarang yang mampu melindungiku?
Aku melihat pada wajah-wajah …
Apakah ada daripada mereka yang akan menebusku?
Aku akan disoal apa yang telah aku lakukan
Di dunia untuk menyelamatkan diri ini?
Maka bagaimana akan kujawab
Setelah aku mengabaikan urusan agamaku?
Celakanya aku! Apakah aku tak mendengar
Ayat-ayat Allah yang menyeruku?
Adakah aku tak dengar apa yang telah diberitakan
Di dalam surah Qaaf dan Yaasin?
Apakah aku tak dengar tentang hari dikumpulkan manusia
Hari perhimpunan dan hari al-Deen (Qiyamah)?
Adakah aku tak dengar panggilan ajal maut,
Menyeru dan menjemputku?
Maka Ya Rabb! Seorang hamba datang bertaubat,
Siapa yang dapat melindunginya?
Melainkan Tuhan yang Maha Luas pengampunan-Nya
Yang membimbingku pada kebenaran?
Aku telah datang pada-Mu maka kasihanilah daku
Dan beratkan timbangan (kebaikan) ku
Dan ringankan (percepatkan) hisabku
Kerana Engkaulah yang terbaik dalam penghisaban
Tidak malukah kau bermaksiat pada-Ku?
Kau sembunyikan dosamu dari makhluk-Ku
Dan datang pada-Ku dengan penuh dosa
Bagaimana aku nak jawab duhai diriku yang malang?
… dan siapalah yang dapat menyelamatkan aku?
Aku terus menyogok jiwaku dengan impian
Dan harapan dari semasa ke semasa
Dan aku melupakan apa yang bakal dihadapi selepas mati
Dan apa yang akan berlaku selepas aku dikafankan
Seolah-olah aku ini telah dijamin untuk hidup selamanya
Seakan mati tidak akan menemuiku
Dan telah datang padaku sakaratul yang ngeri
Nah! Siapa sekarang yang mampu melindungiku?
Aku melihat pada wajah-wajah …
Apakah ada daripada mereka yang akan menebusku?
Aku akan disoal apa yang telah aku lakukan
Di dunia untuk menyelamatkan diri ini?
Maka bagaimana akan kujawab
Setelah aku mengabaikan urusan agamaku?
Celakanya aku! Apakah aku tak mendengar
Ayat-ayat Allah yang menyeruku?
Adakah aku tak dengar apa yang telah diberitakan
Di dalam surah Qaaf dan Yaasin?
Apakah aku tak dengar tentang hari dikumpulkan manusia
Hari perhimpunan dan hari al-Deen (Qiyamah)?
Adakah aku tak dengar panggilan ajal maut,
Menyeru dan menjemputku?
Maka Ya Rabb! Seorang hamba datang bertaubat,
Siapa yang dapat melindunginya?
Melainkan Tuhan yang Maha Luas pengampunan-Nya
Yang membimbingku pada kebenaran?
Aku telah datang pada-Mu maka kasihanilah daku
Dan beratkan timbangan (kebaikan) ku
Dan ringankan (percepatkan) hisabku
Kerana Engkaulah yang terbaik dalam penghisaban
Subscribe to:
Posts (Atom)