Ramai orang yang tidak terlalu khawatir dengan kematian yang akan mendatanginya. Mereka berpikir, bukankah ucapan lailahaillallah akan memberi jaminan bagi seorang Muslim untuk masuk Surga. Itu perkara mudah. Saat menjelang kematian, cukup ucapkan kalimat syahadat tersebut, maka si mati pun akan masuk Surga.
Benarkah ia akan semudah itu?
Bacalah kisah yang terdapat dalam buku MENCARI HUSNUL KHATIMAH berikut ini:
Pesakit itu, seorang lelaki berumur sekitar 50-an, sedang menghadapi saat-saat kematiannya. Anaknya yang berada di sampingnya membimbing ayahnya mengucapkan kalimah syahadah.
“Wahai ayah, ucapkanlah lailahaillallah,” kata anaknya itu.
Ayahnya tidak menjawab. Dia hanya diam saja.
Anaknya pun mengulangi perkataannya, “Wahai ayah … wahai ayah … ucapkanlah lailahaillallah. Wahai ayah, katakanlah lailahaillallah.”
Tetapi ayahnya tetap tidak menjawab.
Setelah berulang-ulang kali anaknya berkata demikian, akhirnya ayahnya bersuara. “Wahai anakku, ayah mengetahui kalimah yang engkau ucapkan itu, tetapi ayah tidak mampu mengucapkannya. Ayah merasakan seolah-olah ada gunung yang menghimpit lidah ayah.”
Maka anaknya pun menangis. “Wahai ayah, ucapkanlah lailahaillallah,” dia terus berusaha membimbing ayahnya agar mengucapkan kalimah yang mulia itu.
“Ayah tidak mampu,” jawab ayahnya.
Demikianlah yang terjadi berulang-ulang sehingga sampailah saat kematian lelaki itu. Dia meninggal dunia dalam keadaan tidak mampu mengucap syahadah.
Bukannya dia tidak tahu kalimah itu. Dia mengetahuinya, tetapi dia tertahan daripada mengucapkannya. Dia menyedari pentingnya mengucapkan kalimah itu. Dia ingin mengucapkannya, tetapi seolah-olah ada gunung di atas lidahnya yang menghalangnya daripada mengucapkan kalimah syahadah.
Dia tidak mampu.
Apakah kita akan mampu mengucapkannya pada akhir hayat kita?

No comments:
Post a Comment