Buku ini agak berbeza berbanding buku-buku kami sebelumnya. Buku-buku Sebelumnya banyak mengajak pembaca untuk tersenyum dan menjadi orang yang bahagia. Buku-buku Bila Allah Menduga Kita (Mustread), Senyumlah (Galeri Ilmu), Mudahkan Jangan Susahkan (Galeri Ilmu), dan Bersyukurlah Kerana-Nya (Galeri Ilmu), mengajak pembaca melihat masalah dan ujian yang dilalui secara positif dan melihatnya melalui sudut pandang yang tepat, sehingga mereka mampu tersenyum walaupun sedang menghadapi ujian yang berat. Ataupun sekurang-kurangnya mereka tidaklah sampai berputus asa. Selain itu, pembaca juga diajak untuk melihat nikmat-nikmat yang ada pada dirinya dengan perasaan syukur. Semua itu diharap dapat menghilangkan perasaan susah hati dan mendatangkan kebahagiaan.
Apabila membaca buku ini, mungkin pembaca akan berasa susah untuk tersenyum. Mengapa begitu? Kerana buku ini membicarakan tentang kematian. Kita tidak mampu tersenyum ketika berhadapan dengan kematian. Ia terlalu serius dan tidak boleh dipandang ringan. Ia terlalu penting dan tidak boleh ditangguhkan. Jadi kita kena belajar tentangnya dan berusaha untuk sentiasa mengingatinya. Itulah sebabnya saya menulis buku ini.
Meskipun begitu, buku ini tetap ada kaitan dengan buku-buku sebelumnya, iaitu semuanya berkaitan dengan ujian. Kematian juga termasuk ujian. Kehidupan dan kematian dicipta oleh Allah untuk menguji manusia, sebagaimana yang disebut dalam ayat kedua surah al-Mulk. Kematian adalah ujian yang terakhir dan terpenting untuk manusia. Kerana itulah kita perlu selalu mengingatinya.
Dengan selalu mengingati mati, insya-Allah kita akan selalu ingat ke arah mana tujuan kita yang sebenarnya. Dengan mengingati mati, insya-Allah kesombongan akan hilang daripada diri kita, kerana tidak ada manusia yang boleh sombong di hadapan kematian.... Semoga buku ini dapat membantu pembaca memperoleh lebih banyak kebaikan dengan memahami dan mengingati mati.
Jangan lupa untuk mendapatkan buku MENCARI HUSNUL KHATIMAH di pasaran Malaysia.
Monday, September 30, 2013
Hari tua dan selepas kematian
Ramai orang yang menyimpan sebahagian wang gajinya untuk hari tuanya. Dengan itu dia boleh hidup selesa ketika dia sudah tidak kuat untuk bekerja. Kalau manusia begitu memikirkan nasib hari tuanya, bagaimana mereka boleh melupakan nasibnya dalam kehidupan selepas mati? Mengapa dia tidak menyediakan tabungan sebanyak-banyaknya untuk kehidupan selepas mati, ketika dia sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk beramal?
(petikan daripada buku MENCARI HUSNUL KHATIMAH)
(petikan daripada buku MENCARI HUSNUL KHATIMAH)
Thursday, September 26, 2013
Money Changer Kehidupan
“Cuba tengok itu,” saya berkata pada istri yang duduk di sebelah. Kami ketika itu sedang menunggu dipanggilnya nombor giliran di sebuah money changer yang cukup besar. Saya menunjuk ke arah dua orang perempuan, yang satu berusia sekitar 40 tahun, dan satunya lagi yang tampaknya adalah ibunya berusia lebih dari 60 tahun. Keduanya sedang berdiri menukar uang di depan pegawai money changer.
“Ada apa?” istri saya belum faham.
“Ibu yang tua itu jalannya sudah sangat susah sehingga perlu dibimbing oleh anaknya,” saya menerangkan.
Istri saya memperhatikan kedua perempuan itu. Tak lama kemudian, keduanya berjalan menuju ke deretan kursi untuk menunggu panggilan selepasnya. Perempuan yang tua berjalan dengan dibimbing oleh perempuan yang lebih muda. Ia berjalan tertatih-tatih. Kakinya susah digerakkan, sehingga jalannya sangat lambat. Cermin mata perempuan tua itu juga sangat tebal, mungkin ia sudah tak boleh melihat dengan jelas.
“Betul juga,” kata istri saya saat melihat keduanya berjalan.
“Perempuan ini sudah tua, tapi dia masih sahaja sibuk mengurusi dunia,” ujar saya lagi kepada istri. “Bukankah lebih baik kalau dia menyibukkan diri untuk akhiratnya, terutama pada umurnya sekarang ini?”
Namun perempuan itu tampaknya keturunan Cina dan mungkin bukan Muslim. Cara berpikirnya tentu berbeda dengan cara berpikir kami.
“Tapi pada sisi lain, mungkin ada baiknya dia tetap melakukan aktiviti seperti ini,” kata saya lagi kepada istri. “Bukankah orang tua yang tidak banyak aktiviti dan tidak banyak bergerak akan cepat menjadi nyanyuk (terkena alzheimer).”
“Itu pun benar juga,” kata istri saya. “Orang tua perlu tetap beraktiviti agar jiwa dan pikirannya tetap sihat.”
Saya kemudian bebisik kepada istri saya sambil tersenyum, “Kalau macam tu, kalau Allah bagi kita umur panjang, kita akan tetap beraktiviti walaupun sudah berusia tua. Kita akan pergi ke bank dan money changer. Kita terus jalankan bisnes dan berinvestasi. Tapi kita melakukan itu semua sambil berzikir … subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar ….”
Istri saya tersenyum membayangkan hal itu.
Tentu saja kami tak tahu apakah akan melakukan semua itu pada usia tua atau tidak. Macam pengusaha hebat sahaja. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah dalam setiap aktiviti yang dilakukan jangan sampai lupa pada Allah.
Tetap menjalankan urusan duniawi yang halal hingga ke usia tua tidak masalah, tapi jangan lupakan kematian yang semakin dekat. Niatkan aktiviti duniawi itu untuk kepentingan akhirat, dan selalu basahi lisan berzikir mengingat-Nya. Dengan begitu, mudah-mudahan akhir perbuatan dan ucapan kita adalah sesuatu yang dicintai oleh-Nya, bukan yang dibenci-Nya.
Kita juga kena sentiasa ingat bahawa saat kita meninggal dunia, kita akan memasuki sebuah negeri yang baru, iaitu negeri akhirat. Di sana kita memerlukan ‘mata uang’ yang berbeza dengan yang ada di dunia. Orang yang hendak pergi ke negeri lain, perlu datang ke money changer untuk menukar uangnya dengan mata uang yang boleh diterima di negeri yang akan didatanginya. Seorang yang akan pergi ke negeri akhirat (kita semua akan pergi ke sana) juga perlu menukar terlebih dahulu apa yang dimilikinya di dunia dengan hal-hal yang boleh diterima di negeri yang baru itu.
Negeri akhirat tidak mengenal dollar, ringgit, ataupun rupiah, yang dikenalnya adalah buah dari amal soleh dan sedekah yang ikhlas kerana-Nya. Negeri itu tak mengenal berbagai harta benda yang kita miliki sekarang, yang dikenalnya hanyalah hasil daripada ketulusan menyembah-Nya. Negeri itu tak mengenal wajah yang tampan, fizikal yang kuat, mahupun ramainya kawan-kawan yang hebat, yang dikenalnya hanyalah lisan yang jujur dan banyak berzikir, sifat kasih sayang dan tolong menolong kerana-Nya, serta hati dan jiwa yang bersih.
Negeri akhirat itulah negeri kita yang sebenar, bukan negeri yang sekarang ini. Kita akan pergi dan menetap seterusnya di sana. Masalahnya, kita tidak tahu bila ‘flight’ kita akan berangkat ke sana. Mungkin beberapa puluh tahun lagi, tapi mungkin juga esok pagi. Maka tukarkan ‘uang’ yang kita miliki di dunia ini sebanyak-banyaknya untuk menyiapkan diri menuju ke negeri akhirat. Pergilah ke ‘money changer’. Kalau kita menemukan ada orang yang memerlukan pertolongan, maka itulah money changer-nya. Kalau kita memiliki waktu luang untuk beribadah, maka itulah money changer-nya. Setiap tempat dan bumi yang kita ada di atasnya atau sedang kita lalui, maka itu pun boleh menjadi money changer. Pada semua money changer itu, kita tukar harta duniawi serta berbagai aktiviti kita dengan keridhaan-Nya. Nilai tukarnya tidak akan pernah jatuh, selama keikhlasan tetap terjaga. Dengan begitu, kelak kita akan memasuki negeri akhirat dengan ‘uang’ yang mencukupi insya Allah.
Akhirnya, jangan menunggu sampai menjadi tua seperti si perempuan tua untuk pergi ke ‘money changer’. Ia berjalan dengan susah payah dan kena dibantu orang lain. Bersiaplah sekarang juga, ‘flight’ kita mungkin akan berlepas sekejap lagi. Wallahu a’lam.
Syed Alwi Alatas
Jakarta, 26 September 2013
“Ada apa?” istri saya belum faham.
“Ibu yang tua itu jalannya sudah sangat susah sehingga perlu dibimbing oleh anaknya,” saya menerangkan.
Istri saya memperhatikan kedua perempuan itu. Tak lama kemudian, keduanya berjalan menuju ke deretan kursi untuk menunggu panggilan selepasnya. Perempuan yang tua berjalan dengan dibimbing oleh perempuan yang lebih muda. Ia berjalan tertatih-tatih. Kakinya susah digerakkan, sehingga jalannya sangat lambat. Cermin mata perempuan tua itu juga sangat tebal, mungkin ia sudah tak boleh melihat dengan jelas.
“Betul juga,” kata istri saya saat melihat keduanya berjalan.
“Perempuan ini sudah tua, tapi dia masih sahaja sibuk mengurusi dunia,” ujar saya lagi kepada istri. “Bukankah lebih baik kalau dia menyibukkan diri untuk akhiratnya, terutama pada umurnya sekarang ini?”
Namun perempuan itu tampaknya keturunan Cina dan mungkin bukan Muslim. Cara berpikirnya tentu berbeda dengan cara berpikir kami.
“Tapi pada sisi lain, mungkin ada baiknya dia tetap melakukan aktiviti seperti ini,” kata saya lagi kepada istri. “Bukankah orang tua yang tidak banyak aktiviti dan tidak banyak bergerak akan cepat menjadi nyanyuk (terkena alzheimer).”
“Itu pun benar juga,” kata istri saya. “Orang tua perlu tetap beraktiviti agar jiwa dan pikirannya tetap sihat.”
Saya kemudian bebisik kepada istri saya sambil tersenyum, “Kalau macam tu, kalau Allah bagi kita umur panjang, kita akan tetap beraktiviti walaupun sudah berusia tua. Kita akan pergi ke bank dan money changer. Kita terus jalankan bisnes dan berinvestasi. Tapi kita melakukan itu semua sambil berzikir … subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar ….”
Istri saya tersenyum membayangkan hal itu.
Tentu saja kami tak tahu apakah akan melakukan semua itu pada usia tua atau tidak. Macam pengusaha hebat sahaja. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah dalam setiap aktiviti yang dilakukan jangan sampai lupa pada Allah.
Tetap menjalankan urusan duniawi yang halal hingga ke usia tua tidak masalah, tapi jangan lupakan kematian yang semakin dekat. Niatkan aktiviti duniawi itu untuk kepentingan akhirat, dan selalu basahi lisan berzikir mengingat-Nya. Dengan begitu, mudah-mudahan akhir perbuatan dan ucapan kita adalah sesuatu yang dicintai oleh-Nya, bukan yang dibenci-Nya.
Kita juga kena sentiasa ingat bahawa saat kita meninggal dunia, kita akan memasuki sebuah negeri yang baru, iaitu negeri akhirat. Di sana kita memerlukan ‘mata uang’ yang berbeza dengan yang ada di dunia. Orang yang hendak pergi ke negeri lain, perlu datang ke money changer untuk menukar uangnya dengan mata uang yang boleh diterima di negeri yang akan didatanginya. Seorang yang akan pergi ke negeri akhirat (kita semua akan pergi ke sana) juga perlu menukar terlebih dahulu apa yang dimilikinya di dunia dengan hal-hal yang boleh diterima di negeri yang baru itu.
Negeri akhirat tidak mengenal dollar, ringgit, ataupun rupiah, yang dikenalnya adalah buah dari amal soleh dan sedekah yang ikhlas kerana-Nya. Negeri itu tak mengenal berbagai harta benda yang kita miliki sekarang, yang dikenalnya hanyalah hasil daripada ketulusan menyembah-Nya. Negeri itu tak mengenal wajah yang tampan, fizikal yang kuat, mahupun ramainya kawan-kawan yang hebat, yang dikenalnya hanyalah lisan yang jujur dan banyak berzikir, sifat kasih sayang dan tolong menolong kerana-Nya, serta hati dan jiwa yang bersih.
Negeri akhirat itulah negeri kita yang sebenar, bukan negeri yang sekarang ini. Kita akan pergi dan menetap seterusnya di sana. Masalahnya, kita tidak tahu bila ‘flight’ kita akan berangkat ke sana. Mungkin beberapa puluh tahun lagi, tapi mungkin juga esok pagi. Maka tukarkan ‘uang’ yang kita miliki di dunia ini sebanyak-banyaknya untuk menyiapkan diri menuju ke negeri akhirat. Pergilah ke ‘money changer’. Kalau kita menemukan ada orang yang memerlukan pertolongan, maka itulah money changer-nya. Kalau kita memiliki waktu luang untuk beribadah, maka itulah money changer-nya. Setiap tempat dan bumi yang kita ada di atasnya atau sedang kita lalui, maka itu pun boleh menjadi money changer. Pada semua money changer itu, kita tukar harta duniawi serta berbagai aktiviti kita dengan keridhaan-Nya. Nilai tukarnya tidak akan pernah jatuh, selama keikhlasan tetap terjaga. Dengan begitu, kelak kita akan memasuki negeri akhirat dengan ‘uang’ yang mencukupi insya Allah.
Akhirnya, jangan menunggu sampai menjadi tua seperti si perempuan tua untuk pergi ke ‘money changer’. Ia berjalan dengan susah payah dan kena dibantu orang lain. Bersiaplah sekarang juga, ‘flight’ kita mungkin akan berlepas sekejap lagi. Wallahu a’lam.
Syed Alwi Alatas
Jakarta, 26 September 2013
Tuesday, September 24, 2013
Sebesar apa rumah kita?
Beberapa hari lepas saya bertakziah ke tempat seorang yang baru saja meninggal dunia. Orang yang wafat ini merupakan seorang peniaga yang berhasil dan termasuk orang kaya. “Jalan masuk ke rumahnya hanya cukup untuk satu kereta,” begitu saya diberitahu, “tapi rumahnya besar sekali.”
Ketika tiba di rumahnya, saya tidak begitu memperhatikan keadaan tempat itu, kerana perhatian tertuju pada orang-orang lainnya yang hadir di sana. Beberapa waktu kemudian, jenazah dibawa dengan sebuah kereta pengantar jenazah menuju ke masjid untuk disolatkan dan kemudian dibawa ke kubur. Saya sendiri tidak ikut menyalatkan di masjid dan mengantarkan ke kuburan. Saya menunggu ibu saya yang ikut bertakziah keluar dari dalam rumah untuk kemudian pulang ke rumah.
Orang-orang sudah mulai pergi meninggalkan tempat itu dan suasana menjadi lebih sepi. Ketika itu, sambil menunggu ibu, saya memperhatikan halaman serta rumah yang besar itu. Untuk sebuah rumah pribadi, tempat itu memang sangat besar. Ia memiliki bangunan tempat meletakkan kereta yang terpisah dari bangunan rumah utama. Halaman dan kebunnya juga sangat luas.
“Besar sekali rumah ini,” saya bertanya-tanya ingin tahu, “berapakah luasnya?”
“Saya dengar luasnya 1 hektar,” kata abang yang ada di sebelah saya.
Dapatkah anda membayangkan sebuah rumah pribadi, di tengah kota besar seperti Jakarta, yang luas tanahnya 1 hektar? Tentu saja Allahyarham bukan satu-satunya orang kaya yang memiliki rumah dan halaman seluas itu. Ada orang-orang kaya lainnya yang memiliki rumah pribadi dengan tanah yang luas. Tapi jumlah mereka tentu tak ramai, apalagi jika dibandingkan dengan kebanyakan orang yang rumahnya tidak sampai 100 atau 150 meter persegi. Masih ramai lagi yang tidak memiliki rumah sama sekali dan hanya mampu menyewa rumah.
Kalau pemilik rumah ini selalu bersyukur kepada Tuhannya atas nikmat itu, tentu ia termasuk orang yang beruntung. Ia memiliki rumah yang besar, memiliki kekayaan yang lebih dari cukup, memiliki kenderaan dan bangunan khusus untuk meletakkan kenderaannya, memiliki bisnes yang hebat, serta memiliki banyak hal lainnya. Tentu tiada alasan untuk tidak bersyukur. Tapi kita yang rumahnya kecil pun, atau belum punya rumah, jangan sampai tak bersyukur. Kerana nikmat yang sedikit pun perlu disyukuri. Sekecil apa pun nikmat, di dalamnya ada tuntutan untuk bersyukur. Dan bagi orang yang bersyukur, nikmatnya akan dilipatgandakan.
Jadi begitulah, orang itu memiliki rumah yang sangat besar. Namun kini ia sudah meninggal dunia. Jenazahnya dihantar meninggalkan rumah itu, menuju ke tempat yang lain. Kemana jenazah itu dihantarkan? Ya, ia dihantarkan ke ‘rumah’ yang baru. Luas rumah yang baru itu hanya sekitar dua meter persegi, tidak lebih. Rumah barunya itu sama saja dengan rumah kita semua pada akhirnya. Orang yang tidak punya rumah selama hidupnya pun pada akhirnya akan menempati ‘rumah’ yang luasnya kurang lebih sama dengan yang ditempati si kaya.

Rumah di akhir kehidupan itu bernama kuburan. Kita semua akan masuk ke dalamnya. Kekayaan kita di dunia tidak membuat kubur itu lebih lapang dan selesa. Kekayaan amal-lah yang akan menjadikannya terang dan aman.
Jangan hanya sibuk membeli dan mengurus rumah duniawi. Kerana pada akhirnya rumah itu akan jadi milik orang lain. Persiapkan diri untuk rumah yang terakhir. Agar kelak kita tak merasa kecewa yang berpanjangan.
Syed Alwi Alatas
Jakarta, 23 September 2013
Ketika tiba di rumahnya, saya tidak begitu memperhatikan keadaan tempat itu, kerana perhatian tertuju pada orang-orang lainnya yang hadir di sana. Beberapa waktu kemudian, jenazah dibawa dengan sebuah kereta pengantar jenazah menuju ke masjid untuk disolatkan dan kemudian dibawa ke kubur. Saya sendiri tidak ikut menyalatkan di masjid dan mengantarkan ke kuburan. Saya menunggu ibu saya yang ikut bertakziah keluar dari dalam rumah untuk kemudian pulang ke rumah.
Orang-orang sudah mulai pergi meninggalkan tempat itu dan suasana menjadi lebih sepi. Ketika itu, sambil menunggu ibu, saya memperhatikan halaman serta rumah yang besar itu. Untuk sebuah rumah pribadi, tempat itu memang sangat besar. Ia memiliki bangunan tempat meletakkan kereta yang terpisah dari bangunan rumah utama. Halaman dan kebunnya juga sangat luas.
“Besar sekali rumah ini,” saya bertanya-tanya ingin tahu, “berapakah luasnya?”
“Saya dengar luasnya 1 hektar,” kata abang yang ada di sebelah saya.
Dapatkah anda membayangkan sebuah rumah pribadi, di tengah kota besar seperti Jakarta, yang luas tanahnya 1 hektar? Tentu saja Allahyarham bukan satu-satunya orang kaya yang memiliki rumah dan halaman seluas itu. Ada orang-orang kaya lainnya yang memiliki rumah pribadi dengan tanah yang luas. Tapi jumlah mereka tentu tak ramai, apalagi jika dibandingkan dengan kebanyakan orang yang rumahnya tidak sampai 100 atau 150 meter persegi. Masih ramai lagi yang tidak memiliki rumah sama sekali dan hanya mampu menyewa rumah.
Kalau pemilik rumah ini selalu bersyukur kepada Tuhannya atas nikmat itu, tentu ia termasuk orang yang beruntung. Ia memiliki rumah yang besar, memiliki kekayaan yang lebih dari cukup, memiliki kenderaan dan bangunan khusus untuk meletakkan kenderaannya, memiliki bisnes yang hebat, serta memiliki banyak hal lainnya. Tentu tiada alasan untuk tidak bersyukur. Tapi kita yang rumahnya kecil pun, atau belum punya rumah, jangan sampai tak bersyukur. Kerana nikmat yang sedikit pun perlu disyukuri. Sekecil apa pun nikmat, di dalamnya ada tuntutan untuk bersyukur. Dan bagi orang yang bersyukur, nikmatnya akan dilipatgandakan.
Jadi begitulah, orang itu memiliki rumah yang sangat besar. Namun kini ia sudah meninggal dunia. Jenazahnya dihantar meninggalkan rumah itu, menuju ke tempat yang lain. Kemana jenazah itu dihantarkan? Ya, ia dihantarkan ke ‘rumah’ yang baru. Luas rumah yang baru itu hanya sekitar dua meter persegi, tidak lebih. Rumah barunya itu sama saja dengan rumah kita semua pada akhirnya. Orang yang tidak punya rumah selama hidupnya pun pada akhirnya akan menempati ‘rumah’ yang luasnya kurang lebih sama dengan yang ditempati si kaya.

Rumah di akhir kehidupan itu bernama kuburan. Kita semua akan masuk ke dalamnya. Kekayaan kita di dunia tidak membuat kubur itu lebih lapang dan selesa. Kekayaan amal-lah yang akan menjadikannya terang dan aman.
Jangan hanya sibuk membeli dan mengurus rumah duniawi. Kerana pada akhirnya rumah itu akan jadi milik orang lain. Persiapkan diri untuk rumah yang terakhir. Agar kelak kita tak merasa kecewa yang berpanjangan.
Syed Alwi Alatas
Jakarta, 23 September 2013
Sunday, September 22, 2013
The end ... not the start
Belum lama ini saya berjumpa dengan seorang kawan lama, sebut sahaja namanya Adi. Ia mengajak saya pergi dengan mengendarai keretanya ke beberapa tempat di Jakarta, sambil berbincang tentang banyak hal. Kemudian kami berhenti di sebuah tempat untuk makan nasi goreng rawit.
Saat makan, ia sempat bercerita tentang dialog seorang anak dengan ayahnya. Si anak mengeluh tentang keadaan yang dihadapinya, bahawa ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ia merasa tak boleh menjadi orang yang sukses dengan keadaannya itu. Ia merasa iri dengan pemuda-pemuda lain yang berasal dari keluarga kaya dan memiliki banyak hal dan kemudahan untuk sukses dalam hidup.
Ayahnya kemudian menasihati anak ini dengan sebuah kalimat, "It doesn't matter where you start. It's matter where you end."

Ini adalah sebuah kisah dan pelajaran yang sangat berharga. Kata-kata nasihat itu singkat saja, tetapi sangat dalam. Apa yang dikatakannya sangat tepat. Tidak penting di mana kamu memulai. Yang penting di mana kamu berakhir. Ramai orang yang sudah membuktikan ini. Awalnya tidak menentukan akhirnya. Orang yang awal hidupnya susah, tidak mesti akhir hidupnya juga susah. Orang yang awal hidupnya bahagia, belum tentu akhirnya juga bahagia. Ada beberapa kisah dalam buku Mudahkan, Jangan Susahkan yang membuktikan kebenaran ini.
Kawan saya menyebutkan kisah itu berkenaan dengan usaha manusia dalam kehidupan di dunia. Namun, tiba-tiba saya berpikir bahawa kata-kata itu juga sebenarnya berkenaan dengan kematian. Bahkan hubungannya dengan kematian lebih penting lagi. "It doesn't matter where you start. It's matter where you end." Tidak penting di mana kamu memulai. Kita boleh memulai kehidupan ini di keluarga miskin atau kaya. Kita boleh memulainya di keluarga Muslim atau bukan Muslim. Kita boleh memulainya dalam keadaan sehat atau cacat. Kita boleh memulainya dalam keadaan bahagia atau menderita. Kita tidak memiliki kuasa atas bagian awalnya. Kita menerima takdir itu sepenuhnya. Ia bukan untuk dikeluhkan. Mengapa macam itu? Kerana tidak penting di mana kita memulai. Yang penting adalah dimana kita berakhir. Dan awal hidup ini tidak menentukan akhirnya. Ramai yang awal hidupnya baik, tetapi akhir hidupnya buruk, sebagaimana ramai pula orang yang awal hidupnya buruk tetapi akhirnya baik.
Awal hidup manusia ada dua sahaja, boleh jadi ia baik, boleh jadi ia buruk. Tapi itu tak penting. Akhir hidup manusia juga hanya dua, boleh jadi ia husnul khatimah, boleh jadi su'ul khatimah. Dan ini yang paling penting, kerana hal ini yang menjadi hasil akhirnya.
Jadi yang paling penting adalah akhirnya. Kita bertanggung jawab atas akhirnya. Dan akhir kehidupan ini adalah kematian. It's really matter how we end our life. Sehebat apa pun bahagian awal dan perjalanan hidup kita, tapi jika akhirnya buruk (su'ul khatimah), maka sia-sialah semuanya.
Apa yang sudah kita lakukan untuk menghadapi akhir yang sangat penting ini? Mudah-mudahan akhir hidup kita ditutup dengan ucapan syahadat dan kerananya kita mendapat husnul khatimah. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
Rasulullah bersabda, “Sesiapa yang akhir perkataannya adalah lailahaillallah, pasti dia masuk syurga.” (Riwayat al-Hakim dengan sanad hasan)
Saat makan, ia sempat bercerita tentang dialog seorang anak dengan ayahnya. Si anak mengeluh tentang keadaan yang dihadapinya, bahawa ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ia merasa tak boleh menjadi orang yang sukses dengan keadaannya itu. Ia merasa iri dengan pemuda-pemuda lain yang berasal dari keluarga kaya dan memiliki banyak hal dan kemudahan untuk sukses dalam hidup.
Ayahnya kemudian menasihati anak ini dengan sebuah kalimat, "It doesn't matter where you start. It's matter where you end."

Ini adalah sebuah kisah dan pelajaran yang sangat berharga. Kata-kata nasihat itu singkat saja, tetapi sangat dalam. Apa yang dikatakannya sangat tepat. Tidak penting di mana kamu memulai. Yang penting di mana kamu berakhir. Ramai orang yang sudah membuktikan ini. Awalnya tidak menentukan akhirnya. Orang yang awal hidupnya susah, tidak mesti akhir hidupnya juga susah. Orang yang awal hidupnya bahagia, belum tentu akhirnya juga bahagia. Ada beberapa kisah dalam buku Mudahkan, Jangan Susahkan yang membuktikan kebenaran ini.
Kawan saya menyebutkan kisah itu berkenaan dengan usaha manusia dalam kehidupan di dunia. Namun, tiba-tiba saya berpikir bahawa kata-kata itu juga sebenarnya berkenaan dengan kematian. Bahkan hubungannya dengan kematian lebih penting lagi. "It doesn't matter where you start. It's matter where you end." Tidak penting di mana kamu memulai. Kita boleh memulai kehidupan ini di keluarga miskin atau kaya. Kita boleh memulainya di keluarga Muslim atau bukan Muslim. Kita boleh memulainya dalam keadaan sehat atau cacat. Kita boleh memulainya dalam keadaan bahagia atau menderita. Kita tidak memiliki kuasa atas bagian awalnya. Kita menerima takdir itu sepenuhnya. Ia bukan untuk dikeluhkan. Mengapa macam itu? Kerana tidak penting di mana kita memulai. Yang penting adalah dimana kita berakhir. Dan awal hidup ini tidak menentukan akhirnya. Ramai yang awal hidupnya baik, tetapi akhir hidupnya buruk, sebagaimana ramai pula orang yang awal hidupnya buruk tetapi akhirnya baik.
Awal hidup manusia ada dua sahaja, boleh jadi ia baik, boleh jadi ia buruk. Tapi itu tak penting. Akhir hidup manusia juga hanya dua, boleh jadi ia husnul khatimah, boleh jadi su'ul khatimah. Dan ini yang paling penting, kerana hal ini yang menjadi hasil akhirnya.
Jadi yang paling penting adalah akhirnya. Kita bertanggung jawab atas akhirnya. Dan akhir kehidupan ini adalah kematian. It's really matter how we end our life. Sehebat apa pun bahagian awal dan perjalanan hidup kita, tapi jika akhirnya buruk (su'ul khatimah), maka sia-sialah semuanya.
Apa yang sudah kita lakukan untuk menghadapi akhir yang sangat penting ini? Mudah-mudahan akhir hidup kita ditutup dengan ucapan syahadat dan kerananya kita mendapat husnul khatimah. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
Rasulullah bersabda, “Sesiapa yang akhir perkataannya adalah lailahaillallah, pasti dia masuk syurga.” (Riwayat al-Hakim dengan sanad hasan)
Thursday, September 19, 2013
Life may end at forty
Habib Munzir al-Musawa meninggal dunia beberapa hari lepas dalam usia lebih kurang 40 tahun.
Beberapa bulan lepas, Ustadz Jefri al-Buckhori meninggal dunia, juga dalam usia 40 tahun.
Keduanya merupakan ustadz dan pendakwah terkenal di Indonesia. Semoga Allah merahmati keduanya.
Dahulu orang mengatakan "life begins at forty". Sekarang mungkin orang berkata, "life may end at forty."
Usia saya pun sudah dekat 40. Sementara amal sangat sedikit dan dosa-dosa terlalu banyak.
Ya Allah, janganlah Engkau matikan kami melainkan dalam keadaan yang Engkau ridhai.
Wafatkanlah kami dalam husnul khatimah.
Syed Alwi Alatas
Penulis MENCARI HUSNUL KHATIMAH
Beberapa bulan lepas, Ustadz Jefri al-Buckhori meninggal dunia, juga dalam usia 40 tahun.
Keduanya merupakan ustadz dan pendakwah terkenal di Indonesia. Semoga Allah merahmati keduanya.
Dahulu orang mengatakan "life begins at forty". Sekarang mungkin orang berkata, "life may end at forty."
Usia saya pun sudah dekat 40. Sementara amal sangat sedikit dan dosa-dosa terlalu banyak.
Ya Allah, janganlah Engkau matikan kami melainkan dalam keadaan yang Engkau ridhai.
Wafatkanlah kami dalam husnul khatimah.
Syed Alwi Alatas
Penulis MENCARI HUSNUL KHATIMAH
Wednesday, September 18, 2013
Syair yang menyentuh tentang kematian
Jika Tuhanku bertanya padaku
Tidak malukah kau bermaksiat pada-Ku?
Kau sembunyikan dosamu dari makhluk-Ku
Dan datang pada-Ku dengan penuh dosa
Bagaimana aku nak jawab duhai diriku yang malang?
… dan siapalah yang dapat menyelamatkan aku?
Aku terus menyogok jiwaku dengan impian
Dan harapan dari semasa ke semasa
Dan aku melupakan apa yang bakal dihadapi selepas mati
Dan apa yang akan berlaku selepas aku dikafankan
Seolah-olah aku ini telah dijamin untuk hidup selamanya
Seakan mati tidak akan menemuiku
Dan telah datang padaku sakaratul yang ngeri
Nah! Siapa sekarang yang mampu melindungiku?
Aku melihat pada wajah-wajah …
Apakah ada daripada mereka yang akan menebusku?
Aku akan disoal apa yang telah aku lakukan
Di dunia untuk menyelamatkan diri ini?
Maka bagaimana akan kujawab
Setelah aku mengabaikan urusan agamaku?
Celakanya aku! Apakah aku tak mendengar
Ayat-ayat Allah yang menyeruku?
Adakah aku tak dengar apa yang telah diberitakan
Di dalam surah Qaaf dan Yaasin?
Apakah aku tak dengar tentang hari dikumpulkan manusia
Hari perhimpunan dan hari al-Deen (Qiyamah)?
Adakah aku tak dengar panggilan ajal maut,
Menyeru dan menjemputku?
Maka Ya Rabb! Seorang hamba datang bertaubat,
Siapa yang dapat melindunginya?
Melainkan Tuhan yang Maha Luas pengampunan-Nya
Yang membimbingku pada kebenaran?
Aku telah datang pada-Mu maka kasihanilah daku
Dan beratkan timbangan (kebaikan) ku
Dan ringankan (percepatkan) hisabku
Kerana Engkaulah yang terbaik dalam penghisaban
Tidak malukah kau bermaksiat pada-Ku?
Kau sembunyikan dosamu dari makhluk-Ku
Dan datang pada-Ku dengan penuh dosa
Bagaimana aku nak jawab duhai diriku yang malang?
… dan siapalah yang dapat menyelamatkan aku?
Aku terus menyogok jiwaku dengan impian
Dan harapan dari semasa ke semasa
Dan aku melupakan apa yang bakal dihadapi selepas mati
Dan apa yang akan berlaku selepas aku dikafankan
Seolah-olah aku ini telah dijamin untuk hidup selamanya
Seakan mati tidak akan menemuiku
Dan telah datang padaku sakaratul yang ngeri
Nah! Siapa sekarang yang mampu melindungiku?
Aku melihat pada wajah-wajah …
Apakah ada daripada mereka yang akan menebusku?
Aku akan disoal apa yang telah aku lakukan
Di dunia untuk menyelamatkan diri ini?
Maka bagaimana akan kujawab
Setelah aku mengabaikan urusan agamaku?
Celakanya aku! Apakah aku tak mendengar
Ayat-ayat Allah yang menyeruku?
Adakah aku tak dengar apa yang telah diberitakan
Di dalam surah Qaaf dan Yaasin?
Apakah aku tak dengar tentang hari dikumpulkan manusia
Hari perhimpunan dan hari al-Deen (Qiyamah)?
Adakah aku tak dengar panggilan ajal maut,
Menyeru dan menjemputku?
Maka Ya Rabb! Seorang hamba datang bertaubat,
Siapa yang dapat melindunginya?
Melainkan Tuhan yang Maha Luas pengampunan-Nya
Yang membimbingku pada kebenaran?
Aku telah datang pada-Mu maka kasihanilah daku
Dan beratkan timbangan (kebaikan) ku
Dan ringankan (percepatkan) hisabku
Kerana Engkaulah yang terbaik dalam penghisaban
Wednesday, September 11, 2013
Tenggelam ke dalam Lubang Saat Tidur
“Ayo kita jalan-jalan,” begitu ibu membujuk saya pada waktu saya masih kecil. Ketika itu hari sudah malam, bukan lagi waktunya untuk berjalan-jalan.
“Jalan-jalan kemana?” tanya saya.
“Jalan-jalan ke pulau … ke pulau kapuk,” jawab ibu saya tersenyum. Yang dimaksud oleh ibu saya dengan pulau kapuk adalah ‘katil’ atau ‘tilam’, karena pada masa itu kebanyakan tilam berisi kapuk.
Bagi seorang budak yang biasa berimajinasi, ‘jalan-jalan ke pulau kapuk’ adalah ide yang sangat menarik. Ajakan semacam ini biasanya lebih berhasil dalam membujuk anak-anak yang enerjinya seperti tak pernah habis dan ingin terus bermain daripada sekadar mengajak untuk tidur. Anak-anak itu mungkin akan pergi ke bilik tidur sambil membayangkan dirinya akan pergi ke pulau-pulau yang indah melalui mimpi dan imajinasinya.
Bagi orang dewasa, tidur juga merupakan aktiviti yang sangat diperlukan. Tidur membantu menghilangkan ketegangan selepas seharian menghadapi banyak masalah yang harus diselesaikan. Tidur membuat anggota tubuh beristirahat setelah bekerja keras seharian. Tidur merupakan satu kenikmatan yang membawa manusia keluar sekejap dari kehidupan dunianya yang kompleks. Dan ketika ia bangun di pagi hari, tubuh dan pikirannya sudah segar kembali dan siap melakukan aktiviti seperti biasa.
Tapi ramai orang yang lupa bahawa sebenarnya tidur adalah sebuah kematian kecil. Roh orang yang tidur ditahan oleh Allah seperti orang yang meninggal dunia, hanya saja roh orang yang tidur ini kemudian dikembalikan lagi sehingga ia dapat bangun dari tidurnya. Tapi ada juga orang yang tidur dan rohnya tidak pernah kembali lagi. Ia meninggal dunia pada saat tidur. Atau ada juga orang yang tidur dan terbangun secara tiba-tiba hanya untuk menjumpai kematiannya, seperti pada kasus yang terjadi di Florida, Amerika Syarikat, berikut ini.
Pada awal bulan March 2013 itu, Jeff Bush (37 th) seperti biasa tidur di biliknya. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang buruk. Semua berjalan biasa sahaja. Namun ketika semua orang sudah tidur, tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari bilik Jeff Bush. Jeremy Bush yang tidur di bilik lain terbangun saat mendengar teriakan itu. Ia segera berlari menuju bilik saudaranya itu dan menemukan seluruh isi bilik itu sudah lenyap, masuk ke dalam sebuah lubang yang dalam. “Semuanya hilang, tempat tidur saudara saya, meja di kamar tidurnya, TV-nya, demikian pula dengan saudara saya,” kata Jeremy.
Rupanya pada malam itu, saat Jeff Bush sedang tidur, tiba-tiba terbentuk sebuah lubang besar dan dalam (sinkhole) di bilik tidurnya. Jeff Bush dan seluruh isi biliknya jatuh ke dalam lubang yang dalam itu. Ia menjerit saat hal itu terjadi, tetapi selepas itu tidak ada suara lagi dari dalam lubang. Jeremy berusaha untuk menolong saudaranya itu, tetapi tidak berhasil kerana lubang itu sangat dalam. Tim penyelamat yang datang selepas itu juga tidak dapat memberikan pertolongan kerana keadaannya terlalu berbahaya. Jeff Bush diperkirakan telah meninggal dunia di dalam lubang itu kerana tak ada lagi suara yang terdengar dari dalamnya.
Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Tidak ada khabar akan datangnya bencana. Semua terasa aman, sehingga sebuah lubang besar terbentuk secara tiba-tiba dan menelan Jeff Bush yang sedang tidur di biliknya. Hal semacam ini mungkin tak pernah muncul dalam imajinasi budak-budak mahupun orang dewasa.
Kita tidak pernah tahu bila dan dimana kematian akan mendatangi kita. Ia tidak semestinya datang saat umur kita tua dan saat kita menderita sakit yang berpanjangan. Kematian boleh datang secara tiba-tiba, tanpa kita sempat melakukan persiapan untuk menghadapinya. Ia juga boleh datang saat kita sedang tidur dengan nikmat, dan membalik mimpi-mimpi indah kita menjadi kenyataan yang buruk dan menakutkan bagi siapa saja yang menyaksikannya.
Mulai sekarang, setiap kali akan pergi tidur, katakanlah pada diri sendiri bahawa ini mungkin tidur kita yang terakhir. Berdoalah kepada Allah seperti yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan selepas itu tidurlah dengan tenang. Kalau kematian datang menjemput pada malam itu, mudah-mudahan kita termasuk orang yang mendapatkan husnul khatimah.
Syed Alwi Alatas
Jakarta, 11 September 2013
Sumber:
http://edition.cnn.com/2013/03/01/us/florida-sinkhole/index.html http://www.nydailynews.com/news/national/sinkhole-swallowed-sleeping-florida-man-revealed-article-1.1279726
Tuesday, September 10, 2013
Ucapkanlah lailahaillallah ...
Ramai orang yang tidak terlalu khawatir dengan kematian yang akan mendatanginya. Mereka berpikir, bukankah ucapan lailahaillallah akan memberi jaminan bagi seorang Muslim untuk masuk Surga. Itu perkara mudah. Saat menjelang kematian, cukup ucapkan kalimat syahadat tersebut, maka si mati pun akan masuk Surga.
Benarkah ia akan semudah itu?
Bacalah kisah yang terdapat dalam buku MENCARI HUSNUL KHATIMAH berikut ini:
Pesakit itu, seorang lelaki berumur sekitar 50-an, sedang menghadapi saat-saat kematiannya. Anaknya yang berada di sampingnya membimbing ayahnya mengucapkan kalimah syahadah.
“Wahai ayah, ucapkanlah lailahaillallah,” kata anaknya itu.
Ayahnya tidak menjawab. Dia hanya diam saja.
Anaknya pun mengulangi perkataannya, “Wahai ayah … wahai ayah … ucapkanlah lailahaillallah. Wahai ayah, katakanlah lailahaillallah.”
Tetapi ayahnya tetap tidak menjawab.
Setelah berulang-ulang kali anaknya berkata demikian, akhirnya ayahnya bersuara. “Wahai anakku, ayah mengetahui kalimah yang engkau ucapkan itu, tetapi ayah tidak mampu mengucapkannya. Ayah merasakan seolah-olah ada gunung yang menghimpit lidah ayah.”
Maka anaknya pun menangis. “Wahai ayah, ucapkanlah lailahaillallah,” dia terus berusaha membimbing ayahnya agar mengucapkan kalimah yang mulia itu.
“Ayah tidak mampu,” jawab ayahnya.
Demikianlah yang terjadi berulang-ulang sehingga sampailah saat kematian lelaki itu. Dia meninggal dunia dalam keadaan tidak mampu mengucap syahadah.
Bukannya dia tidak tahu kalimah itu. Dia mengetahuinya, tetapi dia tertahan daripada mengucapkannya. Dia menyedari pentingnya mengucapkan kalimah itu. Dia ingin mengucapkannya, tetapi seolah-olah ada gunung di atas lidahnya yang menghalangnya daripada mengucapkan kalimah syahadah.
Dia tidak mampu.
Apakah kita akan mampu mengucapkannya pada akhir hayat kita?
Benarkah ia akan semudah itu?
Bacalah kisah yang terdapat dalam buku MENCARI HUSNUL KHATIMAH berikut ini:
Pesakit itu, seorang lelaki berumur sekitar 50-an, sedang menghadapi saat-saat kematiannya. Anaknya yang berada di sampingnya membimbing ayahnya mengucapkan kalimah syahadah.
“Wahai ayah, ucapkanlah lailahaillallah,” kata anaknya itu.
Ayahnya tidak menjawab. Dia hanya diam saja.
Anaknya pun mengulangi perkataannya, “Wahai ayah … wahai ayah … ucapkanlah lailahaillallah. Wahai ayah, katakanlah lailahaillallah.”
Tetapi ayahnya tetap tidak menjawab.
Setelah berulang-ulang kali anaknya berkata demikian, akhirnya ayahnya bersuara. “Wahai anakku, ayah mengetahui kalimah yang engkau ucapkan itu, tetapi ayah tidak mampu mengucapkannya. Ayah merasakan seolah-olah ada gunung yang menghimpit lidah ayah.”
Maka anaknya pun menangis. “Wahai ayah, ucapkanlah lailahaillallah,” dia terus berusaha membimbing ayahnya agar mengucapkan kalimah yang mulia itu.
“Ayah tidak mampu,” jawab ayahnya.
Demikianlah yang terjadi berulang-ulang sehingga sampailah saat kematian lelaki itu. Dia meninggal dunia dalam keadaan tidak mampu mengucap syahadah.
Bukannya dia tidak tahu kalimah itu. Dia mengetahuinya, tetapi dia tertahan daripada mengucapkannya. Dia menyedari pentingnya mengucapkan kalimah itu. Dia ingin mengucapkannya, tetapi seolah-olah ada gunung di atas lidahnya yang menghalangnya daripada mengucapkan kalimah syahadah.
Dia tidak mampu.
Apakah kita akan mampu mengucapkannya pada akhir hayat kita?
Sunday, September 8, 2013
Rumah dengan dua pintu

Nabi Nuh a.s. pernah ditanya, “Apa pendapatmu tentang dunia?”
Baginda menjawab, “Dunia bagaikan sebuah rumah yang mempunyai dua pintu. Saya masuk melalui satu pintu dan keluar melalui pintu yang lain.”
Begitulah dunia dalam pandangan Nabi Nuh a.s. Walaupun beliau hidup sekitar seribu tahun.
Kehidupan ini terlalu singkat. Ia seperti memasuki rumah dari satu pintu dan kemudian keluar dari pintu yang lain. Pintu pertama adalah kelahiran dan pintu berikutnya kematian.
Subscribe to:
Comments (Atom)



